Menurut Ron, metode spider dipilih karena terbukti efektif mempercepat pertumbuhan karang pada area rehabilitasi. Selain itu, struktur rangka yang kokoh memudahkan bibit karang menempel dan berkembang, sekaligus menjadi tempat perlindungan bagi biota laut. Ia menambahkan bahwa keterlibatan komunitas dan relawan menjadi kunci kesuksesan program ini.
Pulau Gelasa sendiri dikenal memiliki potensi ekosistem terumbu karang yang sangat kaya. Namun dalam dua dekade terakhir, tekanan lingkungan menyebabkan sebagian kawasan karang mengalami pemutihan dan kerusakan.
Program transplantasi ini diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekosistem serta meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan laut.
LEPU dan Yayasan Peduli Terumbu Karang menargetkan program serupa akan dilakukan secara berkala. Pemantauan akan terus dilakukan untuk memastikan tingkat kelangsungan hidup bibit karang, sekaligus menjadi data ilmiah dalam rencana konservasi jangka panjang.
Dengan langkah awal ini, Pulau Gelasa diharapkan kembali pulih dan menjadi habitat yang sehat bagi terumbu karang serta biota laut lainnya. (3doy/BE)
















