“Sekolah-sekolah favorit tentu punya keunggulan, tapi kenapa semua menumpuk di sana? Salah satunya karena guru-gurunya unggul. Saya minta guru-guru hebat itu didistribusikan ke sekolah lain juga, supaya kualitas pendidikan merata,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya keadilan dalam sistem SPMB agar tidak ada siswa yang putus sekolah karena tidak diterima di sekolah pilihan atau masalah zonasi. “Jangan sampai anak-anak berhenti sekolah hanya karena tidak dapat jurusan yang mereka mau atau tidak masuk sekolah favorit. Semua jurusan punya nilai. Kita harus dampingi mereka secara mental juga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mehoa juga mempertanyakan kebijakan afirmasi keagamaan yang diduga merugikan siswa non-muslim. “Kami menerima keluhan bahwa nilai prestasi dari siswa non-muslim tidak terbaca dalam sistem afirmasi. Ini perlu diklarifikasi oleh dinas. Kalau memang ada ketimpangan kebijakan, harus segera diperbaiki,” ungkapnya.
Sebagai langkah tindak lanjut, DPRD Babel akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Pendidikan pada Senin mendatang untuk membahas seluruh permasalahan SPMB ini.
“Kita harapkan semua bisa diselesaikan dengan baik dan anak-anak kita tetap semangat melanjutkan pendidikan,” tutup Mehoa. (rah)
















