“Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Bambang Patijaya karena telah memberikan kesempatan untuk seleksi di Samator,” kata Devin, singkat namun sarat rasa syukur.
Pemuda asal Desa Balun Ijuk, Merawang, ini pun bertekad untuk memberikan kemampuan terbaiknya dalam kesempatan yang telah didapat.
“Semoga saya bisa berlatih lebih keras dan lebih rajin lagi,” tambahnya, kalimat sederhana yang menyimpan tekad seorang pemuda yang tahu betul kesempatan semacam ini tak datang dua kali.
Bagi Bambang Patijaya, Devin cuma satu titik dari peta yang lebih luas. Liga Super PBVSI Babel, yang kini bergulir di tujuh kabupaten dan kota, ia bayangkan bukan sekadar gelanggang gengsi antardaerah. Ia menghendaki liga itu menjelma corong, tempat bibit-bibit unggul ditemukan, lalu dikirim ke luar Babel untuk digembleng, sebelum pada akhirnya—jika beruntung—pulang membawa nama besar bagi provinsi kepulauan itu.
“Mudah-mudahan dari Liga Super ini semua atlet-atlet kita yang bagus kita bisa kirim ke luar dan berprestasi, sehingga kemudian pada akhirnya akan kembali untuk mendukung tim Provinsi Bangka Belitung,” katanya.
Kejuaraan voli seri Bangka, yang Senin, 21 September lalu adalah babak finalnya, merupakan seri keenam dari rangkaian panjang liga tersebut, sebelum tuntas di seri penutup, Bangka Selatan. Juara pertama dan kedua dari tiap daerah kelak akan diadu dalam Grand Finale, pada pekan ketiga Oktober mendatang.
Dan bagi Bambang Patijaya, kisah Devin baru pembuka. Jika kerjasamanya dengan Samator berjalan mulus, akan ada lebih banyak lagi nama-nama serupa yang diangkat dari lapangan-lapangan voli Babel. Serupa basket yang telah memunculkan pebasket-pebaslet andal dari Babel. Ini membuktikan bahwa bakat, di manapun tumbuhnya, hanya menunggu seseorang yang mau membukakan jalan. Jalan itu kini telah dibuka Bambang Patijaya untuk para pebola voli muda Bangka Belitung. (*)
















