Teknik ini memerlukan persyaratan yang harus benar-benar dipenuhi antara lain tanah diolah dengan baik, menggunakan mulsa, pengairan tercukupi, kecukupan bahan organik bagi tanah dengan pupuk kandang, serangan hama dan penyakit terkendali, kebersihan lahan bersih dari gulma, dan pH tanah mendekati seimbang atau netral, hindari penggunaan hormon / ZPT secara rutin.
Pentingnya pemilihan varitas benih yang adaptif dengan kondisi klimat dan topografi setempat.
Umumnya benih lokal lebih mampu bertahan dibanding hibrida tetapi dari segi produktivitas dan ketahanan buahnya masih di bawah hibrida. Merperhatikan usia bibit semai siap tanam.
Jangan terlalu tua dan jangan terlalu muda. Benih yang siap ditanam mempunyai ciri warna cokelat pada batang bagian bawah dan akar sudah berkembang.
Bibit yang terlalu lama di persemaian akar tunjangnya terlalu panjang sehingga menekuk ke samping, ini akan menghambat fase vegetatif awal, dan mengganggu pembentukan tunas.
Pengelolaan lahan secara tepat dengan memperhatikan musim, tekstur tanah, drainase, kecukupan bahan organik, ketersediaan mineral hara hingga derajat keasaman (pH).
Pengunan plastik mulsa adalah suatu keharusan. Dan antisipasi pemenuhan kebutuhan air untuk musim kemarau, karena umur berlangsung dalam 2 musim.
Persiapan sarana produksi pertanian berupa pupuk organik, dolomit atau pembenah tanah jenis penukar ion (zeolit / bentonit), pupuk makro slow release dan fast release, pupuk foliar, pestisida yang terdiri dari insektisida spektrum luas dan fungisida multi site. Untuk pestisida spesifik melihat perkembangan hama dan penyakit nantinya.
Pemberian pupuk lewat siraman akar atau kocoran lebih baik karena lebih cepat direspon oleh tanaman. Metode pemupukan bersiklus artinya mengatur pemberian pupuk dengan komposisi yang disesuaikan kebutuhan tiap-tiap fase tumbuh tanaman hingga akhir masa petik, kemudian siklus pemupukan diulang untuk mengembalikan fase tumbuh tanaman seperti awal.
Pada tiap-tiap fase tersebut komposisi unsur hara yang dibutuhkan tanaman berbeda-beda. Fase pertumbuhan awal banyak membutuhkan unsur N tinggi dalam bentuk nitrat dan amonium yang berimbang, unsur P sedang, dan unsur K rendah.
Fase vegetatif lanjut, membutuhkan unsur N tinggi dalam bentuk nitrat dan amonium, P dan K rendah ditambah unsur S. Pada fase primordia bunga membutuhkan unsur P tinggi, N dan K sedang ditambah Mg dan Ca. Sedangkan pada fase generatif banyak membutuhkan unsur K, P sedang, N rendah, B dan Mg.
Pemberian unsur mikro tidak boleh diabaikan karena unsur mikro turut berperan dalam metabolisme tanaman, menjaga kondisi tanaman serta penting bagi regenerasi sel-sel tanaman.
Saat tanaman mencapai akhir fase generatif atau saat buah hampir habis tanaman bisa dikembalikan lagi ke fase kedua yakni fase pertumbuhan lanjut untuk menumbuhkan tunas-tunas baru dan selanjutnya hingga berbunga dan berbuah lagi.
Tingkat keberhasilan cara di atas bisa bervariasi tergantung tipe lahan, kualitas benih dan pupuk makro yang dipakai, kendala hama dan penyakit, iklim dan cuaca serta ketekunan aplikator. (**)
















