“Saya sudah pastikan dengan mencoba langsung mencicipi air dari saluran setempat, saya mendapati air tersebut berasa asin,” ungkapnya.
Menurut Herman Deru, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena pompanisasi tidak akan efektif apabila air sungai yang dipompa telah mengalami intrusi air asin.
“Tadinya mau dibantu mesin air, tapi melihat kondisi ini, mesin air berapa pun jumlahnya, ternyata percuma karena airnya asin. Kita berdoa segera turun hujan, karena di sini panen sudah tiga kali setahun,” ujarnya di hadapan para petani.
Meski menghadapi ancaman kekurangan air, Herman Deru mengapresiasi produktivitas petani Banyuasin yang mampu melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Ia memastikan akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian untuk memetakan titik-titik irigasi yang masih memungkinkan mendapatkan pasokan air tawar melalui pompanisasi.
“Kita akan cari titik-titik yang masih memungkinkan untuk dialiri air tawar dengan menggunakan mesin pompa,” tegasnya.
Selain persoalan pertanian, dalam kunjungan tersebut Herman Deru juga menyerap keluhan masyarakat mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di tingkat eceran.
Warga menyampaikan bahwa harga Pertalite di tingkat pengecer berkisar antara Rp13.000 hingga Rp15.000 per liter.
Menanggapi keluhan tersebut, Herman Deru mengatakan akan segera berkomunikasi dengan pihak PT Pertamina agar kebutuhan BBM masyarakat, khususnya para petani, dapat lebih mudah dipenuhi.
Ia juga menyampaikan rencana untuk mendorong tersedianya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang lokasinya lebih dekat dengan kawasan sentra pertanian. (***)
















